Berkelana Ke Petirtaan Jolotundo, Situs Tua di Kaki Gunung Penanggungan

233
views
Petirtaan Jolotundo
Petirtaan Jolotundo

Malam itu tujuan kami adalah berkelana ke Petirtaan Jolotundo atau Candi Jolotundo yang merupakan situs tua di daerah Jawa Timur peninggalan Raja Udayana.

Lokasi candi Jolotundo ini berada tepat di bawah kaki gunung Penanggungan yang juga bisa sahabat Mampoo sebut sebagai gunung candi karena banyaknya candi-candi yang bertebaran di Gunung Penanggungan.

Perjalanan malam yang ditempuh dari kota Malang sangat lancar meskipun saat itu hari Sabtu, arus lalu lintas hanya terasa tersendat di daerah pintu tol Pandaan. Namun kami tak pedulikan hal tersebut, karena kami mengambil arah belok kiri dan terus bergerak menuju ke arah terminal Pandaan dan selanjutnya melanjutkan perjalanan ke arah Trawas Mojokerto.

Bagi sahabat Mampoo yang ingin mengunjungi situs Petirtaan Jolotundo ini haruslah hati-hati, karena ada 2 tanjakan tajam menuju lokasi wisata sejarah ini. Pastikan kendaraan yang sahabat Mampoo sehat demi keselamatan sahabat Mampoo dan para penumpang.

Sesampai di lokasi Petirtan Jolotundo, keadaan sekarang sudah tidak terlalu gelap, karena instalasi PLN telah memasuki area wisata. Tentu keadaan ini berbeda dari beberapa tahun lalu, dimana untuk penerangan masih mengandalkan dari genset.

Semakin malam, lokasi ini semakin ramai pengunjung. Bulan purnama yang bersinar terang setelah tertutup mendung beberapa jam ternyata mampu membuat orang-orang yang merindukan kesunyian, keheningan dan beberapa “laku” supranatural dan spiritual tertentu menuju ke pemandian yang dibangun sejak jaman Raja Airlangga ini.

Petirtan Jolotundo dengan bentuk empat persegi panjang dnegan teras di tengah dan puncak pancuran di tengah ternyata memiliki arti simbolis yang menggambarkan sebgai Mahameru. Puncak Mahameru sendiri merupakan tempat tertinggi dan menjadi tempat bersemayam para dewa.

Bagi sahabat Mampoo yang berkunjung ke Petirtaan Jolotundo ini dapat memanfaatkan dua kolam di samping kiri dan kanan situs untuk mandi, tetapi ingat, mandi di dalam kolam ini dilarang keras menggunakan sabun ataupun shampoo karena akan dapat merusak batu-batu sejarah.

Airnya yang jernih yang keluar perut gunung Penanggungan dipercaya memiliki daya magis atau kekuatan tertentu. Tak sedikit wisatawan yang mandi di malam hari ataupun siang hari masih membawah botol ataupun tempat air lain untuk membawa air Jolotundo ini pulang.
Bahkan sempat tersiar kabar bahwa air Jolotundo ini memiliki kandungan mineral yang terbaik di Indonesia, dan nomor dua terbaik di dunia setelah air zamzam (Wallahuallam).

Mampoo sendiri sempat berbincang dengan salah satu pengunjung yang berasal dari Surabaya. Bapak yang sudah terlihat sedikit tua ini menceritakan bahwa pada malam hari saat bulan purnama malam tadi, beliau melihat bahwa air Jolotundo ini berwarna kuning emas.
Well, jangan heran sahabat Mampoo, jika mengunjungi situs-situs bersejarah seperti ini tentu kita akan sering mendengar cerita-cerita berbau mistis dan aneh.
Tetapi itulah pengalaman supranatural yang bersangkutan. Dan Mampoo sendiri hanya mengangguk sambil tersenyum.

Nah sahabat Mampoo, berkunjung ke wisata sejarah sebenarnya mampu membuat kita memperoleh beberapa manfaat sekaligus. Selain megetahui lebih banyak tentang sejarah suatu tempat, bangunan atau apapun itu, juga mampu membuat badan (jasmani dan rohani) menjadi lebih segar.