Review Film Coco: Penuh Pesan Moral, Dan Film Frozen Masih Ada

154
views
Review Film Coco
Review Film Coco

Booming film Coco akhirnya membawa langkah Mampoo untuk membeli tiket film produksi Walt Disney tersebut.

Tentu saja film Coco yang merupakan film animasi untuk anak-anak ini tak lengkap bila tak ditonton oleh anak-anak, dan alhasil mampoo pun membawa dua pasukan cantik Mampoo untuk menonton film ini.

Herannya, meskipun film Coco ini menjadi film yang mampu merebut box office dengan mengalahkan film Justice League, namun tak semua gedung bioskop yang tergabung dalam jaringan Cinema XXI di Malang memutar film ini.

Dan di Malang, hanya Dieng 21 sajalah yang memutar film animasi produksi Walt Disney dan Pixar ini.

Sebelum pemutaran film Coco, Walt Disney memberikan cuplikan film pendek Petualangan Olaf serta Anna dan Elsa yang juga pernah sukses dalam film Frozen.

Durasi film Petualangan Olaf yang menceritakan usaha Olaf untuk membuat tradisi di keluarga Anna dan Elsa ini cukup panjang.
Jadi jika anak-anak tidak fokus atau sahabat mampoo tidak fokus menonton dijamin bisa lupa, ini sebenarnya tadi beli tiket film Coco atau film Frozen. Hahahaha…

Setelah film pendek Frozen tersebut bubar, barulah film Coco yang sebenarnya muncul.

Review film Coco, sangat bagus

Setting film Coco ini mengambil latar kebudayaan Dia De Los Muertos (Day of the Dead) atau hari raya untuk orang mati di Meksiko.

Ups… tapi tenang, meskipun menceritakan orang mati, tapi dijamin 100% film ini tidak ada unsur seramnya sama sekali. Masih sangat aman untuk anak kecil sekalipun.

Cerita diawali saat Miguel (Anthony Gonzalez) menceritakan asal mula keluarga besarnya yang dari semula mencintai musik sampai akhirnya membenci musik dan lebih memilih membuat sepatu sebagai mata pencaharian keluarga besar mereka.

Cerita berlanjut ketika Miguel yang lebih senang memilih jalur musik daripada membuat sepatu bertekad untuk meninggalkan keluarganya dan lebih memilih bermain musik di alun – alun dengan mengikuti kontes semalam De La Cruz, tokoh musik pujaannya.

Nekat ingin ikut tetapi tidak punya gitar, Miguelpun pergi ke makam De La Cruz yang dianggapnya merupakan kakeh canggahnya dan mengambil gitar peninggalan sang legenda musik tersebut.

Namun belum sempat keluar dari ruangan, Miguel mengalami kejadian aneh. Ketika mencoba memetik dawai gitar, dirinya terlempar ke dalam dunia arwah yang sedang bersuka cita karena merayakan Festival Orang Mati tersebut.

Dan, Miguel bertemu dengan semua leluhurnya, hingga akhirnya bertemu dengan kakek canggahnya yang tak pernah diketahuinya.

Namun yang lebih mengejutkan adalah, kakek buyutnya adalah bukan De La Cruz seperti sangkaannya selama ini, melainkan Hector, lelaki yang ditemuinya di jalan namun tak pernah berhasil menyeberang ke dunia nyata untuk bertemu keluarganya karena fotonya tak pernah dipasang di tempat foto-foto leluhur.

Cerita dalam film Coco ini memiliki makna filosofi yang cukup dalam.

Bahwa sebagai generasi penerus, kita tentu tak boleh melupakan leluhur-leluhur kita, minimal dengan selalu mengingatnya dalam doa dan kenangan kita.

Sama seperti di film ini, Coco yang tak lain adalah putri Hector dan satu-satunya orang di dunia yang masih mengingat Hector, pada akhirnya mulai melupakan ayahnya tersebut karena usia Coco sendiri sudah tidak muda dan sudah pikun.

Beruntung, pada akhirnya Miguel berhasil membuat ingatan nenek buyutnya tersebut membaik dan menceritakan tentang kisah ayahnya dan kemudian membuka tulisan-tulisan ayah Coco yang tak lain adalah lagu yang dipopulerkan oleh De La Cruz.

Festival Orang Mati di Meksiko ini memiliki kesamaan dengan tradisi yang ada di tanah air.

Jika di Meksiko peringatan orang mati ini menjadi peristiwa besar yang dirayakan oleh masyarakat secara bersama, di tanah air sedikit berbeda, karena untuk memperingati orang yang sudah meninggal orang-orang di tanah air menggunakan kalender perhitungan khusus.

Yang pada akhirnya muncullah tradisi seperti khol, ataupun kirim doa memperingati kematian leluhur.

Film Coco yang disutradarai oleh Lee Unkrich dan ditulis oleh Adrian Molina ini juga dikemas sangat menarik oleh Walt Disney. Karena menggabungkan musik dan jalan cerita yang menarik.

Film berdurasi 126 menit inipun pada akhirnya tak membuat bosan penonton yang didominasi anak-anak ini.

Recommended banget deh pokoknya film Coco ini….

REVIEW OVERVIEW
Review film Coco